Kembali ke daftar berita
Rony Kriswibowo Bahas AI: Generasi Emas atau Generasi Malas?
Rony Kriswibowo 15 Aug 2026

Rony Kriswibowo Bahas AI: Generasi Emas atau Generasi Malas?

Rony Kriswibowo, Dekan Fakultas Teknologi dan Bisnis Universitas Anwar Medika, membahas AI, generasi emas, dan tantangan penggunaan AI di kalangan mahasiswa.

Dekan Fakultas Teknologi dan Bisnis Universitas Anwar Medika Bahas AI: Generasi Emas atau Generasi Malas?

SIDOARJO – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, khususnya dalam cara mahasiswa belajar, mengakses informasi, dan menyelesaikan berbagai tugas akademik. Di tengah pesatnya pemanfaatan teknologi tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah AI akan melahirkan generasi emas yang semakin cerdas dan produktif, atau justru menciptakan generasi yang semakin bergantung pada teknologi?

Isu tersebut menjadi topik utama dalam kegiatan Webinar Artificial Intelligence bertajuk “Generasi Emas atau Generasi Malas? Realitas Penggunaan AI di Kalangan Mahasiswa Indonesia” yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Kegiatan ini menghadirkan Rony Kriswibowo, S.Kom., M.Kom., Dekan Fakultas Teknologi dan Bisnis Universitas Anwar Medika, sebagai pemateri, dengan Bulan Shafira Nur Azizah sebagai moderator.

Webinar tersebut menjadi ruang edukasi dan diskusi mengenai peluang, tantangan, serta tanggung jawab mahasiswa dalam memanfaatkan kecerdasan buatan secara bijak, kritis, dan produktif.

Artificial Intelligence Mengubah Cara Mahasiswa Belajar

Kemajuan teknologi AI telah menghadirkan berbagai kemudahan dalam dunia pendidikan. Melalui aplikasi berbasis kecerdasan buatan, mahasiswa dapat memperoleh penjelasan materi, menyusun kerangka tulisan, mempelajari pemrograman, menganalisis informasi, hingga mengembangkan ide dan kreativitas.

Berbagai teknologi AI generatif, termasuk chatbot cerdas, telah menjadi bagian dari perkembangan ekosistem pembelajaran digital.

Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru. Penggunaan AI tanpa pemahaman yang memadai berpotensi menimbulkan ketergantungan, mengurangi keterlibatan mahasiswa dalam proses berpikir, serta meningkatkan risiko pelanggaran integritas akademik.

Oleh karena itu, mahasiswa perlu memahami bahwa AI seharusnya menjadi alat bantu pembelajaran, bukan pengganti kemampuan berpikir dan tanggung jawab akademik.

Generasi Emas atau Generasi Malas?

Tema webinar ini mengangkat dua kemungkinan yang dapat muncul dari penggunaan kecerdasan buatan dalam kehidupan mahasiswa.

Di satu sisi, AI berpotensi mendukung lahirnya generasi emas, yaitu generasi yang mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas, memperluas pengetahuan, mempercepat inovasi, serta mengembangkan kemampuan dalam menyelesaikan permasalahan.

Di sisi lain, penggunaan AI secara berlebihan dan tanpa proses evaluasi kritis dapat menimbulkan kebiasaan belajar yang pasif. Mahasiswa berisiko terbiasa menerima jawaban instan tanpa memahami konsep, proses, maupun dasar pemikiran di balik jawaban tersebut.

Perbedaan antara kedua kemungkinan ini tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan oleh cara mahasiswa menggunakannya.

Mahasiswa yang memanfaatkan AI untuk mengeksplorasi gagasan, menguji pemahaman, serta memperdalam analisis memiliki peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Sebaliknya, apabila AI hanya digunakan untuk menyelesaikan tugas tanpa keterlibatan intelektual, manfaat pembelajarannya dapat menjadi terbatas.

Pentingnya Critical Thinking dan Etika Penggunaan AI

Salah satu kompetensi penting yang perlu dikembangkan mahasiswa di era kecerdasan buatan adalah critical thinking atau kemampuan berpikir kritis.

Mahasiswa tidak cukup hanya mampu memberikan instruksi kepada sistem AI. Mereka juga perlu mengevaluasi akurasi informasi, memeriksa sumber, memahami keterbatasan teknologi, dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang rasional.

AI dapat menghasilkan jawaban yang terlihat meyakinkan, tetapi tidak selalu benar. Oleh karena itu, setiap informasi yang diperoleh melalui AI tetap memerlukan proses verifikasi.

Selain berpikir kritis, penggunaan AI juga harus memperhatikan prinsip etika dan integritas akademik. Mahasiswa perlu memahami batasan penggunaan AI dalam penyusunan tugas, penelitian, maupun karya ilmiah.

Penggunaan teknologi yang bertanggung jawab mencakup kejujuran dalam menyampaikan kontribusi AI, penghormatan terhadap hak cipta, perlindungan data pribadi, serta kepatuhan terhadap kebijakan akademik yang berlaku.

Dengan demikian, literasi AI bukan sekadar kemampuan mengoperasikan aplikasi, melainkan juga kemampuan memahami manfaat, risiko, dan konsekuensi penggunaannya.

Mendorong Mahasiswa Menjadi Pengguna sekaligus Inovator Teknologi

Perkembangan kecerdasan buatan membuka peluang besar bagi mahasiswa untuk mengembangkan berbagai inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Mahasiswa dapat memanfaatkan AI untuk mendukung penelitian, mengembangkan aplikasi, melakukan analisis data, merancang solusi digital, hingga menciptakan produk dan layanan berbasis teknologi.

Bagi mahasiswa bidang teknologi informasi dan bisnis, penguasaan AI menjadi salah satu kompetensi yang semakin relevan dalam menghadapi transformasi dunia kerja.

Namun, kemampuan teknis perlu diimbangi dengan kreativitas, komunikasi, kolaborasi, kemampuan memecahkan masalah, dan sikap bertanggung jawab.

Pendidikan tinggi memiliki peran penting dalam membentuk lulusan yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami bagaimana teknologi dapat diterapkan untuk menghasilkan solusi dan memberikan dampak positif.

Penguatan Literasi Digital di Lingkungan Perguruan Tinggi

Penyelenggaraan Webinar Artificial Intelligence ini menjadi salah satu bentuk upaya penguatan literasi digital di lingkungan mahasiswa Universitas Anwar Medika.

Melalui kegiatan edukatif seperti webinar, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk memperluas wawasan mengenai perkembangan teknologi dan memahami tantangan yang menyertainya.

Kegiatan ini juga sejalan dengan kebutuhan perguruan tinggi untuk terus beradaptasi terhadap perkembangan teknologi, termasuk melalui inovasi pembelajaran, penguatan kompetensi digital, dan pengembangan budaya akademik yang menjunjung tinggi integritas.

Sebagai Dekan Fakultas Teknologi dan Bisnis Universitas Anwar Medika, keterlibatan Rony Kriswibowo sebagai pemateri dalam kegiatan ini menjadi bagian dari kontribusi akademik dalam mendorong pemahaman mengenai pemanfaatan teknologi secara produktif dan bertanggung jawab.

Masa Depan Mahasiswa Ditentukan oleh Cara Menggunakan AI

Perkembangan kecerdasan buatan tidak dapat dipisahkan dari masa depan pendidikan dan dunia kerja. Teknologi ini akan terus berkembang dan menghadirkan peluang sekaligus tantangan baru bagi generasi muda.

Karena itu, mahasiswa perlu membangun pola pikir yang adaptif, meningkatkan literasi digital, serta mempertahankan kemampuan berpikir secara mandiri.

AI dapat menjadi sarana untuk mempercepat pembelajaran dan meningkatkan produktivitas, tetapi kreativitas, integritas, empati, dan tanggung jawab tetap menjadi kualitas penting yang harus dimiliki manusia.

Melalui tema “Generasi Emas atau Generasi Malas?”, webinar ini mengajak mahasiswa untuk merefleksikan kembali peran teknologi dalam proses belajar dan pengembangan diri.

Pada akhirnya, kecerdasan buatan bukanlah penentu apakah mahasiswa akan menjadi generasi emas atau generasi malas. Cara berpikir, sikap belajar, dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi merupakan faktor yang jauh lebih menentukan.

Dengan pemanfaatan AI secara kritis, etis, dan kreatif, mahasiswa diharapkan mampu menjadi generasi yang tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan inovasi dan perubahan positif bagi masyarakat.